Langsung ke konten utama

Postingan

6 Hari di SATI: Sebuah Catatan Refleksi

Sudah berbulan-bulan lalu saya berencana mengisi liburan semester ini dengan bervakansi ke satu kota kecil yang indah di Jawa Timur: Malang. Akan tetapi, karena alasan dana, rencana itu terpaksa saya urungkan. Malang barangkali bisa dijamah kapan-kapan, tapi soal perut harus selalu di-nomorsatu-kan, khususnya saya yang hidup merantau di Jogja. Namun, nasib yang katanya ‘sunyi’ itu berkata lain. Sebuah surat Term of Reference terlampir dalam satu surel ringkas dari dosen. Melalui surat itu, saya dimintai oleh dosen untuk mengikuti sebuah acara dengan tajuk Christianity Study for Moslem Scholars (selanjutnya disingkat CSMS) yang diadakan oleh Asosiasi Teolog Indonesia (ATI). Tak ada yang membuat saya tertarik untuk mengikuti acara ini-karena memang saya tidak terlalu mendalami kajian lintas iman-selain bahwa kegiatan studi ini diadakan di Malang dan akan didanai penuh. Benak saya: ini sebuah berkat, wayahe kalau kata orang Jawa. Dengan hati mantap dan menyala saya memutuskan
Postingan terbaru

Jakarta yang Malang

Jakarta memang keras. Dalam hiruk pikuk kehidupan manusia yang tinggal di dalamnya, terdapat banyak persoalan-persoalan kompleks yang konon membuat wajah siapa saja merengut bila mendengarnya. Kata “Jakarta” mungkin bisa pula dijadikan sebagai gambaran mengenai polusi, kolusi, dan bahkan caci maki. Mengenai kriminalitas jangan ditanya. Hal itu seakan akan sudah menjadi icon bagi kota yang telah berumur hampir setengah milenium itu, mulai dari aksi rampok dan jambret hingga permainan kotor para penguasa. Belum lagi masalah banjir yang sampai hari ini belum menemui titik terangnya, sekalipun sudah banyak usaha-usaha yang dilakukan untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Fakta bahwa daratan Jakarta tenggelam sekitar 17 cm tiap tahunnya menjadi momok yang kian menghantui warga. Betapapun kacaunya permasalahan tersebut, kita tetap tidak bisa membantah keindahan Monas, kemegahan Istiqlal, dan Selalu ada hal-hal baik lainya yang dapat diceritakan dari Jakarta. Jakarta memil

Keangkuhan akan Kalah

Hukum adalah satu garis lurus. Ia selalu berada pada pacaknya. Tidak akan berpindah dari tempat yang ia berdiri di atasnya. Namun, akan selalu ada yang berusaha menggoyahkan kekokohan garis tersebut, untuk berbagai kepentingan. Hukum adalah satu objek abstrak, maka keobjektivannya akan kembali kepada subjeknya sendiri. Suatu ketika seorang wanita dari kalangan kaum bangsawan Arab Quraisy melakukan pencurian. Ia tertangkap dan oleh sebab itu harus diadili melalui jalan hukum Islam. Seorang pencuri telah mengotori tangannya dengan perbuatan keji di dunia. Maka untuk menghindarkan siksaan yang lebih pedih di hari pertimbangan kelak, ia harus dipisahkan dari tubuh si pencuri. Dengan itu ia dan orang-orang lain akan jera. Namun, manusia selalu memanfaatkan celah sesempit apapun untuk mempertahankan kehormatannya. Maka, oleh petinggi Bani Makhzum yang merupakan salah satu dari tiga kabilah terkaya Kaum Quraisy ingin melindungi wanita itu. “Ia adalah wanita bangsawan, tak sewajarnya bila h

Hamka; Ulama Kesayangan Kita

Setiap orang yang yang pernah membaca Sirah kehidupan Buya Hamka akan takzim mengenang kebesaran jiwa sang tokoh kharismatik itu. Hidupnya dipenuhi berbagai kisah-kisah yang membuat siapa saja yang mengetahuinya seakan tersuntik dengan kekaguman. Ia adalah pendulang air bagi jiwa -jiwa yang dahaga akan siraman rohani. Menyampaikan hikmah dan pesan Islam melalui hati menuju hati. Tempat bagi anak-anak jasmani dan rohaninya mengadukan berbagai permasalahan mengenai hidup dari yang sederhana hingga yang nadir diterka. Ia hanyalah manusia biasa yang diangerahi Allah Subhanahu wa Ta’ala pengetahuan yang luas, pikiran yang terbuka, dan hati yang kokoh. Kadang lembut bagi orang yang perlu dihadapi dengan lembut, namun keras bagi yang pantas. Tiada lain tujuannya ialah mengarahkan orang tersebut kepada jalan yang lebih baik. Sebagai orang Minangkabau tulen bergelar Datuk Indomo, sudah menjadi satu keharusan untuk pergi meninggalkan halaman rumah menuju halaman-halaman lain di

STIT kedepannya

Saya memimpikan STIT kedepannya lebih fokus terhadap pengembangan intelektual mahasiswanya. Mahasiswa dan dosen bahkan lebih baik terpisah dari kegiatan-kegiatan struktural di pesantren. Agar kegitannya lebih fokus dalam pengembangan keilmuan. Acap kali terjadi benturan antara jadwal perkuliahan dengan pekerjaan bagian yang menjadi dilema setiap mahasiswa STIT-RH terkhusus yang tinggal di dalam pondok. Sehingga ia mendapati tekanan dari dua sisi yang mau tidak mau harus ia hadapi. Ini membuat kegiatan belajar di kampus tidak maksimal. Begitu pula dengan keefektifannya dalam melaksanakan tugas-tugas bagian tersebut

Cappuccino, Jaz, dan Makalah.

Satu semester merupakan waktu yang sangat berharga bagi saya untuk menimba ilmu di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Ar-Raudlatul Hasanah. Penuh dengan suka cita dan sarat akan ilmu pengetahuan. Di dalamnya kami diajarkan bagaimana berdialog dengan benar dalam suatu ranah keilmuan, serta bagaimana memaparkan makalah di depan audiens dengan baik. Tak sebatas itu, berbagai hal menuju hari H (hari presentasi) juga banyak yang perlu dipersiapkan dengan matang. Tak jarang mata harus menahan kantuk untuk dapat menyelesaikan tugas tepat pada deadline  yang telah disepakati bersama.  Mengerjakan tugas bersama teman dalam suatu ruangan serta ditemani oleh secangkir cappuccino dan alunan musik jazz tentunya dapat menghilangkan kantuk itu dengan efektif. Adrenalin pun lebih terpacu untuk menuntaskan penulisan makalah.  Kafein dalam cappuccino yang terdengar seram namun dapat membasmi habis nafas nafas setan yang membuat kami terkantuk. Ketukan ketukan musik khas ala jazz juga sangat ampuh

Membaca; Anugerah Besar dari Allah

Membaca ialah suatu anugerah besar yang Allah Subhanahu wa taala berikan terhadap manusia. Dengannya manusia dapat meneguk mata air ilmu yang kemudian dapat ia gunakan untuk menjalani hidup di dunia serta merasakan kebahagiaan. Membaca adalah bentuk kecintaan terbesar seseorang terhadap ilmu. Seorang yang suka membaca pastinya memiliki rasa cinta yang amat besar terhadap ilmu. Hari-harinya akan dihabiskan untuk melahap lembar halaman pada buku. Hal itu ia lakukan agar dapat memuaskan dahaganya akan ilmu yang teramat sangat. Membaca adalah jalan untuk dapat melihat dunia dari sisi yang berbeda. Ada berjuta juta macam pengetahuan di dunia. Semua itu dapat kita ketahui dengan membaca. Milyaran ilmu yang telah dituangkan ke dalam lembaran buku-buku dari sejak dulu kala hingga sekarang memiliki pengaruh besar dalam membentuk peradaban manusia yang lebih baik. Kita akan dapat memandang sesuatu melalui sisi-sisi yang berbeda dan kemudian mengantarkan kita ke kesimpulan yang kita b